SUARAMEDIAA.ID – INTERNASIONAL – Skala kekejaman dalam konflik Sudan semakin memicu kemarahan global. Lima negara kunci di kawasan Timur Tengah dan Arab secara serentak mengeluarkan kecaman keras terhadap Pasukan Dukungan Cepat (RSF) paramiliter menyusul laporan pembantaian massal dan pelanggaran HAM berat di kota El-Fasher, Darfur.
Negara-negara yang menyampaikan protes resmi tersebut adalah Arab Saudi, Mesir, Qatar, Turki, dan Yordania. Kecaman ini muncul setelah RSF berhasil merebut El-Fasher, yang merupakan benteng terakhir tentara Sudan (SAF) di wilayah Darfur.
Korban Tembus 2.000, Citra Satelit Ungkap Bukti Kekejaman
Pemerintah Sudan melaporkan bahwa setidaknya 2.000 orang tewas di El-Fasher sejak serangan RSF pada Minggu, [26 Oktober 2025], setelah pengepungan selama 17 bulan.

Bukti mengerikan dikuatkan oleh citra satelit yang dirilis peneliti Universitas Yale. Analisis menunjukkan adanya gumpalan objek yang menyerupai jasad manusia serta area luas berwarna merah, mengindikasikan lokasi pembunuhan massal. Laporan lembaga bantuan juga mengkonfirmasi adanya:
- Eksekusi Singkat terhadap warga sipil yang melarikan diri.
- Penggerebekan Rumah ke Rumah dan penjarahan.
- Kasus Kekerasan Seksual yang menargetkan perempuan dan anak perempuan.

Konflik yang pecah sejak tahun 2023 ini telah menewaskan puluhan ribu orang dan memaksa lebih dari 12 juta penduduk mengungsi, menciptakan krisis kemanusiaan terbesar di Afrika.
Tuntutan Gencatan Senjata dan Dialog Damai
Melalui pernyataan resmi, kelima negara tersebut menyampaikan tuntutan yang seragam, berfokus pada perlindungan sipil dan upaya diplomatik:
| Negara | Poin Utama Kecaman/Tuntutan |
| Arab Saudi | Mengecam pelanggaran HAM berat dan mendesak RSF bertanggung jawab melindungi warga sipil. |
| Mesir | Menyerukan gencatan senjata kemanusiaan segera dan menawarkan dukungan berkelanjutan untuk mengatasi krisis. |
| Turki | Mendesak penghentian permusuhan, menjamin safe passage (jalur aman), dan pengiriman bantuan kemanusiaan tanpa hambatan. |
| Qatar | Mengutuk kekejaman di El-Fasher dan menekankan pentingnya dialog damai sebagai satu-satunya solusi konflik. |
| Yordania | Turut menyerukan penghentian kekerasan dan mendesak semua pihak kembali ke meja perundingan. |
Kejatuhan El-Fasher dinilai sebagai ancaman serius bagi keutuhan Sudan, meningkatkan kekhawatiran akan perpecahan negara lebih lanjut di tengah gejolak regional yang semakin memanas. Komunitas internasional diharapkan dapat meningkatkan tekanan diplomatik untuk menghentikan pertumpahan darah ini.
(ROUF/Tim-SMID)

