Presiden Kuba Kecam Penangkapan Maduro oleh AS, Sebut Siap Berkorban Darah demi Venezuela

Licensed image

HAVANA – Ketegangan di kawasan Amerika Latin mencapai titik tertinggi setelah Presiden Kuba, Miguel Diaz-Canel Bermudez, melontarkan kecaman keras terhadap operasi militer Amerika Serikat (AS) di Venezuela yang berujung pada penangkapan Presiden Nicolas Maduro pada Sabtu (3/1).

Pernyataan tegas ini disampaikan sebagai bentuk solidaritas total Kuba terhadap sekutu terdekatnya di tengah eskalasi militer yang mengguncang kawasan tersebut.

Komitmen Total untuk Venezuela

Miguel Diaz-Canel menegaskan bahwa Kuba tidak akan tinggal diam melihat intervensi asing di negara tetangganya. Ia menyatakan kesiapannya untuk memberikan dukungan penuh bagi kedaulatan Venezuela.

“Kuba akan terus berada di sisi Venezuela, bahkan jika harus mengorbankan darah sendiri,” tegas Miguel dalam pernyataan resminya menyusul berita penangkapan Maduro.

Singgung Isu Genosida di Gaza

Video 🔴: Dilansir dari iNews ( Presiden Kuba Rela Korbankan Darah Bela Venezuela, Singgung Perang Gaza )


Selain mengecam tindakan AS, Presiden Kuba juga menarik paralel antara intervensi di Amerika Latin dengan situasi di Timur Tengah. Ia secara terbuka menyinggung masalah kemanusiaan dan dugaan genosida yang dilakukan oleh Israel di Jalur Gaza sebagai bentuk kritik terhadap standar ganda kebijakan luar negeri negara-negara pendukungnya.

Hingga saat ini, pemerintah Kuba mendesak komunitas internasional untuk menolak tindakan sepihak yang dianggap melanggar kedaulatan nasional sebuah negara berdaulat.

Analisis Dampak Diplomatik: Kuba vs Amerika Serikat


⚠️ Penafian: Analisis mengenai dampak diplomatik antara Kuba dan AS ini bersifat informatif dan didasarkan pada sudut pandang pengamat. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai prediksi pasti atau acuan mutlak terhadap peristiwa yang akan terjadi di masa depan.”

—Admin-SMID

1. Eskalasi Ketegangan Regional Pernyataan Miguel Diaz-Canel yang siap “berkorban darah” menandai kembalinya retorika Perang Dingin di kawasan Amerika Latin. Hubungan diplomatik yang sempat mencoba mencair di masa lalu kini diprediksi akan membeku total, memperkuat blok poros Havana-Caracas melawan Washington.

2. Sanksi Ekonomi Tambahan Gedung Putih kemungkinan besar akan merespons ancaman Kuba dengan memperketat embargo ekonomi. Fokus sanksi diprediksi akan menyasar jalur pasokan energi dan kerja sama medis internasional yang menjadi tulang punggung ekonomi Kuba, sebagai balasan atas dukungan mereka terhadap rezim Maduro.

3. Polarisasi di PBB dan OAS Kuba diprediksi akan menggalang dukungan dari negara-negara non-blok dan sekutu global seperti Rusia dan China untuk membawa isu “intervensi ilegal” AS di Venezuela ke forum internasional. Hal ini akan memperlebar jarak antara Organisasi Negara-Negara Amerika (OAS) yang cenderung pro-AS dengan blok sayap kiri Amerika Latin.

4. Narasi Standar Ganda Dengan menyeret isu Gaza dalam pernyataannya, Miguel Diaz-Canel sedang mencoba memenangkan “perang opini” di tingkat akar rumput global. Ia memposisikan Kuba dan Venezuela sebagai korban dari ambisi imperialisme yang sama dengan yang terjadi di Timur Tengah, guna menarik simpati dari negara-negara berkembang.

(RF)

0Shares

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Notifikasi untuk berita terbaru Ya Tidak,Terima Kasih