JAKARTA, SUARAMEDIAA.ID – Organisasi Advokat dan Paralegal FERADI WPI bersama Subur Jaya Lawfirm menggelar kunjungan ke Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas I Jakarta Pusat atau Rutan Salemba, Selasa, 11 Agustus 2026.
Kegiatan yang berlangsung di Rutan Salemba, Jalan Percetakan Negara No. 88, Rawasari, Kecamatan Cempaka Putih, Jakarta Pusat, tersebut dipimpin Ketua DPD FERADI WPI Jakarta sekaligus Wakil Ketua Umum DPP FERADI WPI, Harriani Bianca Daryana, S.H., C.PL., C.PFW., C.MDF., C.JKJ., C.FTAX.
Dalam kegiatan itu turut hadir Ketua Umum FERADI WPI sekaligus Pimpinan Firma Hukum Subur Jaya & Rekan, Advokat Donny Andretti, S.H., S.Kom., M.Kom., C.Md., C.MDF., C.PFW., C.JKJ., C.FTAX.
Sejumlah pengurus dan anggota FERADI WPI serta tim Subur Jaya Lawfirm juga hadir, di antaranya Wilma Sribayu, C.PFW., C.MDF., C.JKJ., C.FTAX.; Eko Ponco, S.H., C.PFW., C.MDF., C.JKJ., C.FTAX., Ketua DPC FERADI WPI Mojokerto, Farida selaku asisten advokat Subur Jaya Lawfirm, Bu Ria, Bu Conny, serta PDP Rosita Sitompul, S.H.
Bagikan Pesan Alkitab
Dalam kesempatan tersebut, Advokat Donny Andretti menyampaikan renungan dan kesaksian mengenai pengalaman hidup yang menurutnya menjadi bagian dari kebaikan dan kasih Tuhan Yesus Kristus.
Dua ayat Alkitab yang disampaikan dalam renungan tersebut antara lain Yohanes 3:16 dan 1 Petrus 2:24.
Yohanes 3:16 berbicara mengenai kasih Allah kepada manusia melalui pengorbanan Anak-Nya, sedangkan 1 Petrus 2:24 mengangkat tema pengorbanan Kristus di kayu salib serta kehidupan manusia untuk kebenaran.
Dalam penyampaiannya, Donny mengajak para peserta untuk membuka hati, melihat berbagai pengalaman kehidupan secara positif, serta menjadikan kasih dan pengorbanan Kristus sebagai sumber pengharapan.
Kesaksian tentang “Cinta dalam Sepiring Sate Ayam”
Donny juga membagikan pengalaman pribadi yang ia maknai sebagai bentuk kasih Tuhan dalam kehidupan sehari-hari.
Ia menceritakan pengalaman pada Sabtu, 1 Agustus 2026, ketika dirinya hendak menghadiri kegiatan kelompok kecil atau komsel. Dalam perjalanan, ia melihat pedagang sate ayam dan mencium aroma sate dari gerobak yang berada di kompleks perumahan.
Menurut Donny, saat itu ia sempat menyampaikan kepada istrinya bahwa apabila mereka tidak terlambat menghadiri komsel, kemungkinan mereka akan berhenti untuk makan sate.
Namun, setelah kegiatan komsel berlangsung, sekitar pukul 20.00 WIB, sate ayam tersebut justru dipesankan oleh ketua kelompok komsel untuk disantap bersama.
Pengalaman tersebut kemudian berlanjut ketika Donny pulang ke rumah sekitar pukul 21.30 WIB. Ia mengaku kembali menemukan satu bungkus sate ayam lengkap dengan lontong di depan rumahnya.
Menurut kesaksiannya, makanan tersebut diberikan oleh tetangga setelah sebelumnya terdapat kegiatan warga di rumahnya.
Pengalaman tersebut ia maknai sebagai sesuatu yang tidak kebetulan dan sebagai bentuk perhatian Tuhan dalam kehidupannya.
“Bahasa cinta Tuhan kepada saya itu dahsyat. Memikat hati seperti seorang pria memikat hati kekasih wanita,” ujar Donny dalam kesaksiannya.
Ia kemudian menggambarkan pengalaman tersebut dengan ungkapan “Ada Cinta dalam Sepiring Sate Ayam.”
Mengaitkan Pengalaman Tato dengan Pengorbanan Kristus
Dalam kesempatan yang sama, Donny juga menceritakan pengalamannya ketika membuat tato tambahan pada Rabu, 5 Agustus 2026.
Ia mengaku merasakan sakit ketika proses pembuatan tato berlangsung. Pengalaman tersebut kemudian membuatnya teringat pada penderitaan Yesus Kristus ketika menjalani penyaliban.
Menurut Donny, rasa sakit yang dirasakannya akibat jarum tato membuatnya semakin merenungkan penderitaan Kristus di kayu salib.
Ia menyampaikan bahwa pengalaman tersebut menjadi pengingat mengenai besarnya pengorbanan Kristus yang diyakininya sebagai karya penebusan dosa manusia.
“Betapa tidak terbayangkan rasa sakit yang ditanggung Tuhan Yesus di kayu salib demi cinta-Nya kepada aku dan kamu,” ungkapnya.
Diakhiri dengan Doa
Kegiatan kemudian ditutup dengan doa yang dipimpin Advokat Donny Andretti. Dalam doa tersebut, ia mengajak para peserta yang hadir untuk membuka hati dan menerima serta mengundang Tuhan Yesus Kristus dalam kehidupan masing-masing.
Kunjungan FERADI WPI dan Subur Jaya Lawfirm ke Rutan Salemba tersebut menjadi bagian dari kegiatan yang tidak hanya membawa pesan hukum dan organisasi, tetapi juga pesan moral, spiritual, kasih, serta pengharapan bagi mereka yang hadir.
Bagi FERADI WPI dan Subur Jaya Lawfirm, kegiatan tersebut diharapkan dapat menjadi momentum untuk terus menghadirkan kepedulian dan nilai kemanusiaan melalui berbagai kegiatan sosial dan pendampingan di tengah masyarakat.
(Red)
Catatan Redaksi: Sebagai media yang independen dan berimbang, redaksi membuka ruang hak jawab bagi pihak-pihak yang berkepentingan dengan pemberitaan ini sesuai dengan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers dan Kode Etik Jurnalistik.


