PURWAKARTA, SUARAMEDIAA.ID – Mimpi besar tidak selalu lahir dari kota besar. Dari Selaawi, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, Nata Sutisna menapaki perjalanan akademik lintas negara hingga akhirnya melanjutkan studi magister di Amerika Serikat.
Nata kini tercatat sebagai mahasiswa Master of Arts in International Peacebuilding di Hartford International University for Religion and Peace (HIU), Connecticut, Amerika Serikat, untuk tahun akademik 2026–2027.
Ia memperoleh beasiswa penuh dari HIU untuk menempuh pendidikan magister di bidang pembangunan perdamaian internasional. Berdasarkan informasi yang disampaikan, program beasiswa tersebut menyediakan sekitar 10 kursi setiap tahun, dengan Nata menjadi satu-satunya penerima dari Indonesia.
Perjalanan tersebut menjadi capaian tersendiri bagi pemuda yang mengawali pendidikannya di SDN 1 Selaawi, kemudian melanjutkan ke MTsN Purwakarta, sebelum menempuh pendidikan menengah di MAN 1 Tasikmalaya.
Namun, perjalanan akademik Nata tidak berhenti di Indonesia.
Menempuh Pendidikan hingga Tunisia
Selepas pendidikan menengah, Nata melanjutkan studi strata satu di Tunisia melalui beasiswa dari Kementerian Pendidikan Tinggi Tunisia.
Hampir lima tahun tinggal dan belajar di Tunisia menjadi pengalaman penting dalam membentuk perspektifnya mengenai keberagaman, pendidikan, kemanusiaan, dan kehidupan sosial.
Berada di lingkungan dengan bahasa, budaya, tradisi, dan latar belakang masyarakat yang berbeda membuat Nata semakin tertarik pada pertanyaan tentang bagaimana manusia dengan berbagai perbedaan dapat hidup berdampingan.
Pengalaman tersebut kemudian mendorong minatnya pada isu pendidikan, kemanusiaan, keberagaman, dialog, serta perdamaian.
Aktif di Bidang Pendidikan dan Sosial
Sepulang dari Tunisia, Nata tidak hanya melanjutkan aktivitas akademiknya. Ia juga terlibat dalam berbagai kegiatan sosial dan pendidikan.
Nata dipercaya sebagai Ketua The Institute of Democracy and Education of Indonesia (IDE Indonesia), organisasi yang bergerak di bidang pendidikan, kepemudaan, pemberdayaan masyarakat, dialog, dan kegiatan sosial.
Melalui organisasi tersebut, ia terlibat dalam berbagai program pendidikan dan pemberdayaan masyarakat di sejumlah daerah.
Bagi Nata, pendidikan tidak semata-mata berlangsung di ruang kelas. Pendidikan, menurutnya, juga berkaitan dengan bagaimana seseorang membangun cara pandang terhadap dirinya sendiri, orang lain, dan lingkungan sosialnya.
Selain aktivitas organisasi, Nata juga aktif menyampaikan gagasan melalui tulisan dan sejumlah media, termasuk detikNews. Isu yang diangkat antara lain pendidikan, kemanusiaan, keberagaman, kehidupan beragama, dan kebangsaan.
Perdamaian Dimulai dari Cara Manusia Memperlakukan Perbedaan
Kini, pengalaman tersebut mendapatkan ruang pengembangan baru melalui studi International Peacebuilding di Amerika Serikat.
Di HIU, Nata berinteraksi dengan mahasiswa dari berbagai negara dan latar belakang agama. Pertemuan dengan beragam perspektif tersebut menjadi bagian penting dari proses akademiknya.
Bagi Nata, perdamaian tidak hanya berkaitan dengan penghentian konflik bersenjata.
Perdamaian juga dimulai dari hal-hal mendasar dalam kehidupan manusia, seperti cara berpikir, berbicara, mendengarkan, menghargai orang lain, serta menyikapi perbedaan.
Pandangan tersebut menjadi salah satu alasan dirinya memilih memperdalam studi mengenai pembangunan perdamaian.
Membawa Nilai Indonesia ke Ruang Akademik Global
Meski menempuh pendidikan di luar negeri, Nata tidak ingin melepaskan nilai-nilai yang tumbuh dari kehidupan masyarakat Indonesia.
Gotong royong, musyawarah, kebersamaan, kepedulian sosial, dan kemampuan hidup berdampingan dalam keberagaman menjadi nilai yang menurutnya relevan untuk terus dibicarakan dalam konteks perdamaian.
Sebagai anak yang tumbuh dalam lingkungan masyarakat Sunda, Nata juga melihat relevansi falsafah “silih asah, silih asih, silih asuh”—saling mencerdaskan, saling mengasihi, dan saling membimbing.
Nilai tersebut, menurutnya, memiliki keterkaitan dengan upaya membangun masyarakat yang damai.
Silih asah mengajarkan manusia untuk terus belajar dan memahami perspektif orang lain. Silih asih menumbuhkan kepedulian dan kasih sayang, sementara silih asuh mengandung semangat untuk saling menjaga dan membantu.
Dari nilai-nilai tersebut, Nata ingin mengembangkan gagasan mengenai peaceful mindset, yakni pola pikir masyarakat yang terbiasa menyelesaikan perbedaan melalui dialog, memahami perspektif pihak lain, menolak kekerasan, dan tidak menjadikan perbedaan sebagai ancaman.
Pergi untuk Belajar, Pulang Membawa Manfaat
Bagi Nata, Amerika Serikat bukanlah tujuan akhir.
Kesempatan belajar di negeri tersebut justru ingin dijadikannya sebagai ruang untuk memperluas wawasan dan pengalaman sebelum kembali berkontribusi di Indonesia.
Ia memiliki keinginan untuk ikut membangun generasi yang tidak hanya memiliki kemampuan akademik, tetapi juga mampu mendengarkan, memahami perbedaan, mengelola konflik, serta memilih jalan dialog dan perdamaian ketika menghadapi persoalan.
Selama berada di Amerika Serikat, Nata juga mulai menggagas ide untuk membangun sebuah wadah di Indonesia yang berfokus pada nonviolence dan dialogue. Gagasan tersebut saat ini masih berada pada tahap awal.
“Saya ingin belajar perdamaian bukan untuk mendapatkan gelar, tetapi untuk memahami bagaimana kita membangun masyarakat yang mampu hidup bersama dalam perbedaan,” ujar Nata.
Perjalanan dari Selaawi, Purwakarta, menuju Tunisia hingga Amerika Serikat menjadi bagian dari proses panjang Nata dalam memperluas cakrawala tanpa melupakan akar tempat ia berasal.
Ia membawa pengalaman hidup dari Indonesia dan Tunisia ke lingkungan akademik Amerika Serikat, sembari terus membawa nilai-nilai Indonesia dalam perjalanan intelektualnya.
Bagi Nata, pendidikan internasional pada akhirnya bukan hanya tentang memperoleh gelar, melainkan tentang bagaimana pengetahuan yang diperoleh dapat memberikan manfaat ketika dibawa kembali ke tengah masyarakat.
Dari Selaawi, Purwakarta, ia kini berada di Amerika Serikat dengan satu cita-cita yang lebih besar: ikut membangun masyarakat Indonesia yang mampu hidup dalam perbedaan tanpa bermusuhan, menyelesaikan persoalan melalui dialog, serta menolak kekerasan sebagai jalan keluar.
Perjalanan Nata masih panjang. Namun, langkahnya menunjukkan bahwa seorang anak muda dari daerah pun dapat membawa gagasan tentang perdamaian hingga ke ruang akademik global.
(Red)
