BONDOWOSO | SUARAMEDIAA.ID – Upaya mewujudkan lingkungan pondok pesantren yang bersih, sehat, dan peduli lingkungan terus diperkuat melalui sosialisasi dan pembinaan pengelolaan sampah mandiri berbasis komunitas. Kegiatan ini melibatkan sembilan mahasiswa Tim Magang Berdampak dari Universitas Jember (UNEJ), Komunitas Sarka Space, serta sejumlah unsur pemerintah dengan sasaran delapan pondok pesantren di Kabupaten Bondowoso.
Kegiatan yang berlangsung pada Jumat (16/10/2026), selepas salat Jumat, tersebut merupakan tindak lanjut Surat Edaran Bupati Bondowoso Nomor 270 Tahun 2025 tentang Pengelolaan Sampah Secara Mandiri.
Program ini bertujuan mendorong pengelolaan sampah agar tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga tumbuh sebagai kebiasaan dan gerakan bersama, khususnya di lingkungan pendidikan keagamaan.

Salah satu mahasiswa UNEJ, Zyasyir, menjelaskan bahwa kolaborasi antara pemerintah, mahasiswa, komunitas, dan pengelola pesantren menjadi bagian penting dalam membangun sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan.
“Kolaborasi antara pemerintah dan komunitas menjadi langkah penting dalam membangun pengelolaan sampah mandiri yang berkelanjutan di lingkungan pesantren. Melalui kegiatan ini, setiap pihak berkontribusi sesuai dengan peran dan bidangnya untuk mendorong peningkatan kesadaran serta penerapan praktik pengelolaan sampah di lingkungan pondok pesantren,” ujar Zyasyir saat berbincang dengan Suara Mediaa.id di pelataran Sarka Space.
Delapan pesantren menjadi sasaran pembinaan
Delapan pondok pesantren yang menjadi sasaran kegiatan ini meliputi:
- Pondok Pesantren Islam Al-Irsyad.
- Pondok Pesantren Sayyid Muhammad Alawi Al Maliki.
- Pondok Pesantren Nurus Salam.
- Pondok Pesantren Darul Huda.
- Pondok Pesantren Nurul Huda An Nawawi.
- Pondok Pesantren Al-Ishlah.
- Pondok Pesantren Kunuuzul Imam Kauman.
- Pondok Pesantren Nurul Burhan.
Kegiatan tersebut turut melibatkan Dinas Lingkungan Hidup, BAPPERIDA, Dinas Kesehatan, Tim Magang Berdampak Universitas Jember, serta Komunitas Sarka Space.
Sinergi lintas sektor ini diharapkan mampu memperkuat pemahaman pengelola pesantren mengenai pengelolaan sampah sekaligus mendorong penerapan kebiasaan hidup bersih dan sehat di lingkungan pondok.
Sampah anorganik sudah dikumpulkan, pengolahan organik perlu dikembangkan
Dalam pelaksanaannya, pengelola sejumlah pesantren menyambut baik kegiatan sosialisasi dan pembinaan tersebut karena memberikan tambahan wawasan mengenai cara mengelola sampah secara mandiri.
Selama ini, sampah anorganik yang masih memiliki nilai jual telah dikumpulkan untuk kemudian dijual kembali. Namun, pengolahan sampah organik belum diterapkan secara optimal.
Perwakilan pengasuh Pondok Pesantren Al-Ishlah, Ustaz Rizal, mengungkapkan bahwa materi yang diberikan menjadi pengetahuan tambahan bagi pihak pesantren untuk mengembangkan pengelolaan sampah ke depannya.
“Alhamdulillah, menjadi wawasan bagi kami selaku pengasuh. Mungkin ke depannya, setelah mendapatkan ilmu dan pengetahuan ini, kami akan menerapkannya,” ungkap Ustaz Rizal.
Ia menjelaskan bahwa pihak pesantren sebenarnya telah menyediakan tempat sampah organik dan anorganik. Kendati demikian, sampah yang dihasilkan para santri dalam praktik sehari-hari masih kerap tercampur.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa penyediaan fasilitas perlu diikuti edukasi, pembiasaan, serta pendampingan secara berkelanjutan agar pemilahan sampah dapat berjalan dengan baik.
Pihak pesantren pun berharap sosialisasi tersebut tidak berhenti pada penyampaian materi, tetapi dilanjutkan dengan praktik langsung dan pendampingan dari pemerintah maupun komunitas terkait.
Pesantren berpotensi menjadi percontohan pengelolaan sampah
Melalui kegiatan ini, lingkungan pesantren diharapkan dapat menjadi ruang pembelajaran sekaligus penggerak perubahan perilaku masyarakat dalam menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan.
Aktivitas santri dan pengurus yang berlangsung setiap hari dinilai dapat menjadi modal untuk membangun budaya peduli lingkungan. Langkah tersebut dapat dimulai dari membiasakan pemilahan sampah, mengurangi pencampuran sampah organik dan anorganik, serta mengembangkan pengolahan sampah sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan masing-masing pesantren.
Dukungan pemerintah, komunitas, mahasiswa, dan pengelola pondok menjadi faktor penting agar pengetahuan yang diperoleh dapat diterapkan dalam kegiatan sehari-hari.
Ke depan, delapan pondok pesantren yang menjadi sasaran program diharapkan dapat mengembangkan praktik pengelolaan sampah mandiri dan menjadi contoh bagi pesantren lainnya di Kabupaten Bondowoso.
Praktik baik yang dijalankan secara konsisten juga diharapkan dapat direplikasi oleh lingkungan pendidikan dan masyarakat luas, sehingga pengelolaan sampah tidak sekadar menjadi program sesaat, melainkan bagian dari kebiasaan bersama.
Zyasyir menegaskan pentingnya kolaborasi seluruh pihak untuk membangun kesadaran dan mendorong penerapan pengelolaan sampah secara berkelanjutan.
Dengan dukungan pemerintah dan keterlibatan aktif komunitas, upaya pengelolaan sampah mandiri di lingkungan pesantren diharapkan mampu memberikan dampak nyata bagi terciptanya lingkungan yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan.
(Iqbal Pegiat Media dan SUARAMEDIAA.ID)
